"JAUH YANG TIDAK DIRINDUKAN"

 


Internet, youtube, Online, Powerpoint, CBT, elearning, dan makhluk-makhluk sejenisnya bagi kebanyakan guru dan peserta didik bukanlah sesuatu yang asing termasuk saya sendiri. Apalagi pada era teknologi informasi saat ini yang berkembang begitu pesat. Namun, jujur untuk akrab dan mengimplementasikan IT dalam setiap kegiatan pembelajaran masih menjadi sesuatu yang berat untuk dilakukan. Banyak alasan yang diutarakan baik oleh guru dan peserta didik itu sendiri, diantaranya yaitu keterbatasan kemampuan karena mungkin belum tergerak untuk belajar lebih dalam, laptop/HP yang kurang canggih, dan yang paling utama adalah bahwa kenyataan dilapangan belum semua peserta didik memiliki HP. Hal ini dimaklumkan karena proses pembelajaran dalam tatap muka sangat jarang memanfaatkan HP dan internet, belum lagi ada pembatasan bagi peserta didik berkaitan dengan Handphone/smartphone.

Sehingga pada akhirnya pembelajaran berbasis IT di MTs. N 14 Jakarta ibarat seekor Hamster yang sedang berlari kencang di exercise jogging wheel nan penuh semangat namun ternyata tidak kemana-mana. IT masih sebatas powerpoint dan ulangan berbasis offline. Hal ini seolah-olah akan terus berlangsung hingga pada akhirnya……Jegeer!!!!……bak petir di siang bolong, bak sambaran kilat dan petir yang sangat terang dan menggelegar sehingga mengejutkan semua orang. Tepat pada tanggal 2 Maret 2020 pemerintah mengonfirmasi kasus pertama COVID-19 di Indonesia dimana 2 warga kota Depok dinyatakan positif mengidap virus penyebab penyakit tersebut. Selanjutnya, pada 15 Maret, Indonesia mengumumkan 117 kasus yang terkonfirmasi dan Presiden Joko Widodo menyerukan kepada penduduk Indonesia untuk melakukan langkah-langkah pembatasan sosial, sementara beberapa pemimpin daerah di Jakarta, Banten dan Jawa Barat sudah menutup sekolah dan tempat-tempat umum. Inilah awal dari segala perubahan di banyak sektor dan lini kehidupan termasuk bagaimana kegiatan KBM di sekolah harus segera beradaptasi.  

Canggung, bingung, pusing, kelabakan, nervous, dan segala hal yang serupa dengan itu cukup menghantui bagi saya seorang guru apalagi di tingkat peserta didik dan orang tua. Kami dituntut untuk belajar secepat-cepatnya, secerdas-cerdasnya, seefektif dan seefisien mungkin. Mengapa? Bagaimana tidak, begitu instruksi untuk belajar dari rumah/PJJ maka otomatis proses KBM langsung berjalan dengan model, metode, dan strategi yang benar-benar baru. Jadi Belajar sekaligus proses KBM berjalan. Semua dipaksa harus melakukan akselerasi transformasi digital dalam dunia pendidikan. Jujur, terkadang proses BDR/PJJ jauh lebih berat dibandingkan KBM normal. Saat KBM normal proses pembelajaran berlangsung dari pukul 06.30 – 15.50 WIB, namun saat PJJ maka batasan ruang dan waktu itu seolah menjadi semakin tipis atau bahkan hilang sama sekali sehingga istilah 24 jam buka yang dahulu mungkin hanya ada pada jargon salah satu franchise apotik maka kini perlahan mulai melekat pada sekolah.

Dahulu, powerpoint tidaklah selalu dijadikan sebagai media pembelajaran interaktif. Hanya pada saat pertemuan tertentu saja atau boleh dikatakan apabila dalam satu KD ada enam pertemuan maka cukup dibuat satu powerpoint untuk salah satu pertemuan saja. Namun saat PJJ, maka powerpoint saja tidaklah cukup karena dijamin peserta didik akan mengalai kebosanan. Akhirnya mulailah saya dipaksa untuk PDKT dengan Google Classroom, Google Form, e-learning Madrasah, Kahoot, Quizizz, Sparkol, Kinemaster, Wordwall, Zoom, aplikasi berbasis anime, sampai pada akhirnya mulailah merambah dunia antah berantah channel Youtube dan menjadi Youtuber…..wkwkwkwkwkwk! Hadeuuuh, jujur ini hal paling berat karena menuntut kreatifitas dan rasa percaya diri. Sekali lagi saya harus jujur, untuk berperan menjadi youtuber saya terpaksa mengibarkan sang saka merah putih, eh maaf salah maksudnya bendera putih. Iya, putih polos dan semua tahu itu artinya apa? Ya sudahlah, mungkin memang menjadi artis youtube bukan jalan saya hehehehehe.

Apakah hanya di tingkat aplikasi? Ternyata tidak, karena di tingkat peserta didik jauh lebih kompleks. Sebagian kelompok siap dengan PJJ karena memang secara karakter mereka bertanggungjawab dan rasa ingin belajarnya besar serta pantang menyerah. Selain itu beberapa diantaranya mendapatkan dukungan penuh dari orang tuanya karena mampu secara finansial. Namun, ada juga sebagian kelompok yang tidak seberuntung kelompok di atas. Mereka mendapati bahwa orang tua nya memiliki kemampuan finansial yang terbatas sehingga mau tidak mau harus bersahabat dengan keadaan. Kuota dan HP yang digunakan secara bergantian adalah masalah yang kerap dihadapi oleh kelompok ini. Sedih dalam ketidakberdayaan namun harus tetap berjuang demi masa depan. Senyum mereka yang tampak pada foto tugas yang mereka upload seperti oase di tengah padang gurun. Sungguh menyejukkan hati.

Namun, ternyata ada kelompok peserta didik lain dengan tipe yang sangat berbeda dari dua kelompok sebelumnya. Kelompok yang kalau boleh saya sebutkan adalah kelompok “Holiday club”. Ya betul, kelompok yang menganggap Pandemi is liburan brooooo! Wkwkwkwkwk (tertawa dalam sedih). Kelompok ini persentase keaktifannya dalam PJJ cukup rendah atau boleh dikatakan sangat rendah. Dalam mata pelajaran IPA yang saya ampu, ada 1-2 peserta didik yang hanya aktif dalam 5 pertemuan dari 16 pertemuan yang ada. Ini sebenarnya sungguh memprihatinkan dan kadang menimbulkan pertanyaan, “Kesulitan seperti apakah yang dihadapi oleh orang tua saat melakukan proses pendampingan belajar putra-putrinya sehingga hal tersebut sampai terjadi?”. Ternyata setelah dilakukan komunikasi, penelusuran, pendekatan dan pembinaan ditemukan masalah yang cukup kompleks baik dalam keluarga atau dari diri peserta didik itu sendiri. Mereka seperti kehilangan motivasi sehingga pada akhirnya tidak mempunyai alasan kuat untuk apa mereka belajar selama PJJ.

Inilah kelompok yang sebenarnya tidak siap menghadapi kondisi seperti saat ini. Mereka mungkin bingung bagaimana harus menyikapinya. Sebenarnya mereka mampu, karena saat dilakukan komunikasi intens akhirnya kelompok ini kembali bersemangat. Inilah sebenarnya tantangan bagi saya dan teman-teman pendidik lainnya. Bagaimana membangun komunikasi yang memotivasi, sungguh berat sebenarnya dengan model jarak jauh. Namun tetap harus dilakukan….Semangat! 😊

Pandemi COVID-19 memaksa kita melakukan lompatan luar biasa jauh. Transformasi digital seperti yang terjadi saat ini sebenarnya diramalkan akan terjadi 14 tahun yang akan datang. Ketika Pandemi melanda, maka dipaksa berakselerasi lebih cepat 14 tahun. Wow, ini sesuatu yang sangat luar biasa. Dunia pendidikan sebagai bagian dari ruang lingkup Digital Society akhirnya harus turut berakselerasi bersama-sama dengan Digital Government dan Digital Economy.

Oleh karena itu, ketika kegagapan terjadi dalam dunia pendidikan yang menimpa guru dan atau peserta didik serta orang tua maka itu menurut saya wajar. Tuntutan perubahan pada kondisi seperti saat ini tidaklah mudah tapi akan menjadi jauh lebih tidak mudah apabila tidak melakukan perubahan. Kuncinya adalah kebersamaan, saling berbagi, mengerti, dan memahami. In sya Allah segala kendala dalam pelaksanaan PJJ secara berangsur-angsur akan berubah menjadi potensi dan peluang yang akan mendatangkan kebaikan bagi kita semua dan perkembangan bagi kualitas pendidikan di MTs. N 14 Jakarta yang kita cintai. Semoga Allah SWT segera mengangkat COVID-19 dari muka bumi ini , Aamiiiin.

 

 

                                                                                                                                yang sedang mencoba menulis untuk pertama kalinya 
                                                                                                                                                                                            by Ikhwan

Postingan Populer